Lompat ke konten
Read this post in: de_DEen_USes_ESfr_FRid_IDjapl_PLpt_PTru_RUvizh_CNzh_TW
Home » TOGAF » TOGAF ADM: 10 teknik terbaik – Bagian 3: Pola Arsitektur

TOGAF ADM: 10 teknik terbaik – Bagian 3: Pola Arsitektur

Di bidang arsitektur perusahaan, Pola Arsitektur merupakan alat penting untuk membangun solusi efektif terhadap masalah umum. Pola menawarkan cara untuk menempatkan blok bangunan dalam konteks, dan dapat memberikan arsitek sebuah gambaran rancangan untuk merancang solusi yang telah terbukti berhasil di masa lalu. Dalam artikel ini, kami mengeksplorasi konsep Pola Arsitektur dalam konteks TOGAF ADM, serta memberikan contoh Pola Arsitektur dalam konteks pengembangan aplikasi bisnis.

Apa itu Pola Arsitektur

Sebuah ‘pola’ telah didefinisikan sebagai: ‘suatu ide yang telah bermanfaat dalam satu konteks praktis dan kemungkinan besar akan bermanfaat dalam konteks lainnya’ (Sumber: Analysis Patterns – Model Objek yang Dapat Digunakan Kembali, oleh M. Fowler).

Dalam standar TOGAF, pola dianggap sebagai cara untuk menempatkan blok bangunan dalam konteks; misalnya, untuk menggambarkan solusi yang dapat digunakan kembali terhadap suatu masalah. Blok bangunan adalah sesuatu yang Anda gunakan: pola dapat memberi tahu Anda bagaimana menggunakannya, kapan, mengapa, dan apa pertukaran yang harus Anda buat dalam melakukannya.

Pola menawarkan janji membantu arsitek mengidentifikasi kombinasi Blok Bangunan Arsitektur dan/atau Solusi (ABBs/SBBs) yang telah terbukti memberikan solusi efektif di masa lalu, dan dapat menjadi dasar bagi solusi efektif di masa depan.

Teknik pola umumnya diakui telah menjadi teknik desain arsitektur yang berharga oleh Christopher Alexander, seorang arsitek bangunan, yang menggambarkan pendekatan ini dalam bukunya The Timeless Way of Building, yang diterbitkan pada tahun 1979. Buku ini memberikan pengantar tentang gagasan di balik penggunaan pola, dan Alexander kemudian melanjutkannya dengan dua buku tambahan (A Pattern Language dan The Oregon Experiment) di mana ia memperluas penjelasannya mengenai ciri dan manfaat pendekatan pola dalam arsitektur.

Pola Arsitektur dalam TOGAF ADM

Metode Pengembangan Arsitektur (ADM) merupakan komponen utama dari standar TOGAF dari Open Group, yang menyediakan kerangka kerja untuk menciptakan dan mengelola arsitektur perusahaan. Dalam ADM, Pola Arsitektur merupakan alat yang kuat yang dapat membantu arsitek mengidentifikasi solusi yang telah terbukti berhasil terhadap masalah umum dan mempercepat pengembangan arsitektur yang efektif.

Pada intinya, sebuah Pola Arsitektur hanyalah deskripsi dari solusi yang dapat digunakan kembali terhadap suatu masalah yang telah terbukti berhasil dalam praktik. Seperti yang disarankan oleh definisi di atas, sebuah pola adalah ide yang telah bermanfaat dalam satu konteks dan kemungkinan besar akan bermanfaat dalam konteks lainnya. Pola dapat digunakan untuk menggambarkan solusi pada berbagai tingkat abstraksi, mulai dari pola arsitektur tingkat tinggi yang menggambarkan struktur keseluruhan suatu sistem hingga pola desain tingkat rendah yang menggambarkan bagaimana komponen individu harus diimplementasikan.

Salah satu manfaat utama penggunaan Pola Arsitektur adalah membantu arsitek mengidentifikasi kombinasi Blok Bangunan Arsitektur (ABBs) atau Blok Bangunan Solusi (SBBs) yang telah terbukti memberikan solusi efektif di masa lalu. Ini dapat menghemat waktu dan usaha dengan memberikan titik awal untuk pengembangan arsitektur, alih-alih memulai dari nol untuk setiap proyek baru.

Selain itu, Pola Arsitektur dapat membantu memastikan bahwa arsitektur konsisten dan koheren. Dengan menggunakan pola untuk menggambarkan solusi terhadap masalah umum, arsitek dapat menciptakan bahasa bersama dan serangkaian konsep yang dapat digunakan di seluruh organisasi. Ini dapat membantu menghindari salah paham dan memastikan bahwa semua pihak bekerja menuju visi bersama terhadap arsitektur.

Teknik pola telah ditetapkan sebagai teknik desain arsitektur yang berharga oleh Christopher Alexander, seorang arsitek bangunan, yang menggambarkan pendekatan ini dalam bukunya The Timeless Way of Building. Ide-ide Alexander kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam dua buku tambahan, A Pattern Language dan The Oregon Experiment.

Dalam konteks arsitektur perusahaan, terdapat beberapa jenis berbeda dari Pola Arsitektur yang dapat digunakan. Beberapa yang paling umum meliputi:

  1. Arsitektur Referensi – Ini menggambarkan struktur keseluruhan suatu sistem atau aplikasi, dan memberikan titik awal untuk pengembangan arsitektur.
  2. Pola Solusi – Ini menggambarkan bagaimana masalah tertentu dapat dipecahkan menggunakan kombinasi ABBs dan SBBs.
  3. Pola Proses – Ini menggambarkan praktik terbaik dan alur kerja umum untuk mengembangkan dan menerapkan arsitektur.
  4. Pola Desain – Ini menggambarkan bagaimana komponen individu harus dirancang dan diimplementasikan, dan dapat membantu memastikan konsistensi serta kemudahan pemeliharaan di seluruh arsitektur.

Pola Arsitektur merupakan alat yang kuat bagi arsitek yang ingin mengembangkan arsitektur perusahaan yang efektif dan efisien. Dengan mengidentifikasi solusi yang telah terbukti berhasil terhadap masalah umum, arsitek dapat menghemat waktu dan usaha sambil memastikan bahwa arsitektur konsisten, koheren, dan selaras dengan tujuan dan sasaran organisasi.

Templat untuk Mendokumentasikan Pola Arsitektur

1. Nama Pola

Nama deskriptif untuk pola, yang harus secara jelas menyampaikan masalah yang sedang dipecahkan.

2. Masalah

Deskripsi tentang masalah atau tantangan yang ingin diatasi oleh pola ini. Harus jelas dan spesifik, serta memberikan konteks bagi pola tersebut.

3. Konteks

Deskripsi tentang konteks di mana pola ini dimaksudkan digunakan. Harus mencakup informasi tentang organisasi, sistem atau aplikasi yang sedang dikembangkan, serta keterbatasan atau batasan yang relevan.

4. Solusi

Deskripsi tentang solusi yang diberikan oleh pola ini. Harus jelas dan spesifik, serta menjelaskan bagaimana pola ini dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang dijelaskan pada bagian 2.

5. Manfaat

Deskripsi tentang manfaat penggunaan pola ini. Harus menjelaskan bagaimana pola ini dapat membantu mengatasi masalah, serta memberikan bukti untuk mendukung efektivitasnya.

6. Pertukaran

Deskripsi mengenai pertukaran atau kompromi yang harus dibuat saat menggunakan pola ini. Ini harus mencakup keterbatasan atau kekurangan dari pola tersebut, serta risiko yang harus dikelola.

7. Implementasi

Deskripsi mengenai cara menerapkan pola ini. Ini harus mencakup panduan tentang bagaimana menerapkan pola, serta contoh atau kasus penggunaan yang relevan.

8. Pola Terkait

Daftar pola terkait yang mungkin berguna dalam kaitannya dengan pola saat ini. Ini harus mencakup pola-pola yang saling terkait atau yang dapat digunakan bersamaan dengan pola saat ini.

9. Referensi

Daftar referensi dan sumber yang digunakan dalam pengembangan pola ini. Ini harus mencakup publikasi, artikel, atau sumber daya lain yang relevan.

Dengan menggunakan template ini, arsitek dapat membuat pola Arsitektur yang jelas dan efektif yang dapat dengan mudah dibagikan dan digunakan kembali di berbagai proyek dan konteks.

Contoh Pola Arsitektur dalam Konteks Bisnis

Mari kita pertimbangkan contoh pola arsitektur dalam konteks pengembangan aplikasi bisnis.

Misalkan sebuah perusahaan perlu mengembangkan aplikasi berbasis web baru untuk mengelola hubungan pelanggan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana memastikan aplikasi tersebut dapat diskalakan dan mampu menangani sejumlah besar pengguna secara bersamaan.

 

Dengan menggunakan template pola arsitektur yang dijelaskan di atas, kita dapat membuat pola untuk mengatasi masalah ini:

1. Nama Pola:Aplikasi Web yang Dapat Diskalakan

2. Masalah:Mengembangkan aplikasi berbasis web untuk mengelola hubungan pelanggan yang mampu menangani sejumlah besar pengguna secara bersamaan.

3. Konteks:Perusahaan perlu mengembangkan aplikasi berbasis web baru untuk mengelola hubungan pelanggan. Aplikasi ini akan diakses oleh sejumlah besar pengguna dan harus dapat diskalakan untuk menangani periode penggunaan puncak.

4. Solusi:Pola Aplikasi Web yang Dapat Diskalakan memberikan solusi untuk mengembangkan aplikasi berbasis web yang mampu menangani sejumlah besar pengguna secara bersamaan. Unsur utama dari pola ini meliputi:

  • Load balancing: mendistribusikan permintaan masuk ke beberapa server untuk memastikan tidak ada server tunggal yang kelebihan beban.
  • Caching: menggunakan caching di memori untuk menyimpan data yang sering diakses dan mengurangi beban pada basis data.
  • Skalabilitas horizontal: menambahkan server tambahan ke infrastruktur untuk menangani beban yang meningkat.
  • Pembagian basis data: membagi basis data menjadi bagian-bagian kecil untuk mendistribusikan beban ke beberapa server.

5. Manfaat:Dengan menggunakan pola Aplikasi Web yang Dapat Diskalakan, perusahaan dapat memastikan aplikasinya mampu menangani sejumlah besar pengguna secara bersamaan tanpa mengalami masalah kinerja atau downtime. Ini dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dan menambah pendapatan dengan memastikan aplikasi selalu tersedia.

6. Pertukaran:Pola Aplikasi Web yang Dapat Diskalakan memerlukan infrastruktur dan sumber daya tambahan untuk diimplementasikan, yang dapat meningkatkan biaya. Selain itu, penerapan load balancing dan caching dapat menambah kompleksitas pada arsitektur aplikasi.

7. Implementasi: Untuk menerapkan pola Aplikasi Web yang dapat diskalakan, perusahaan sebaiknya mempertimbangkan penggunaan load balancer seperti NGINX, menerapkan caching menggunakan teknologi seperti Redis atau Memcached, dan melakukan peningkatan skala secara horizontal menggunakan platform cloud seperti AWS atau Azure. Pembagian basis data dapat diterapkan menggunakan teknologi basis data seperti MongoDB.

8. Pola Terkait: Pola-pola terkait yang mungkin berguna dalam kaitannya dengan pola Aplikasi Web yang dapat diskalakan meliputi:

  • Arsitektur mikroservis: memecah aplikasi menjadi layanan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola yang dapat diskalakan secara independen.
  • Gerbang API: menyediakan satu titik masuk untuk mengakses layanan aplikasi dan mengelola lalu lintas.

9. Referensi: Beberapa referensi yang mungkin berguna dalam mengembangkan pola Aplikasi Web yang dapat diskalakan meliputi:

  • High Scalability (blog):
  • Membangun Situs Web yang Dapat Diskalakan (buku) oleh Cal Henderson

Dengan menggunakan Pola Arsitektur ini, perusahaan dapat menghemat waktu dan usaha dalam mengembangkan aplikasi web yang dapat diskalakan untuk mengelola hubungan pelanggan. Pola ini memberikan solusi yang terbukti untuk masalah umum dan dapat dengan mudah disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan dan keterbatasan khusus perusahaan.

Contoh Pola Arsitektur dalam Konteks Single Sign On

Berikut ini adalah contoh Pola Arsitektur dalam konteks Single Sign-On (SSO):

Two Factor Multi-Factor Authentication Security Concept

1. Nama Pola: Single Sign-On (SSO)

2. Masalah: Banyak aplikasi dalam suatu organisasi mengharuskan pengguna melakukan otentikasi secara terpisah, yang mengakibatkan pengalaman pengguna yang buruk dan meningkatkan beban administratif dalam mengelola akun pengguna.

3. Konteks: Suatu organisasi memiliki beberapa aplikasi yang mengharuskan pengguna melakukan otentikasi secara terpisah, menyebabkan frustrasi dan kebingungan bagi pengguna. Organisasi tersebut ingin memberikan pengalaman pengguna yang mulus dengan memungkinkan pengguna melakukan otentikasi sekali dan mengakses semua aplikasi tanpa harus memasukkan kredensial kembali.

4. Solusi: Pola Single Sign-On memberikan solusi untuk memungkinkan pengguna melakukan otentikasi sekali dan mengakses beberapa aplikasi tanpa harus memasukkan kredensial kembali. Unsur utama dari pola ini meliputi:

  • Penyedia Identitas (IdP): layanan terpusat yang melakukan otentikasi pengguna dan menyediakan token atau pernyataan yang dapat digunakan untuk mengakses aplikasi lain.
  • Penyedia Layanan (SP): sebuah aplikasi atau layanan yang mengandalkan IdP untuk melakukan otentikasi pengguna dan memberikan akses berdasarkan token atau pernyataan yang disediakan oleh IdP.
  • Protokol standar: menggunakan protokol standar industri seperti SAML, OAuth, atau OpenID Connect untuk memungkinkan komunikasi antara IdP dan SP.

5. Manfaat: Dengan menggunakan pola Single Sign-On, organisasi dapat memberikan pengalaman pengguna yang mulus dan mengurangi beban administratif dalam mengelola akun pengguna. Pengguna hanya perlu melakukan otentikasi sekali, dan kemudian dapat mengakses semua aplikasi tanpa harus mengingat beberapa set kredensial. Ini dapat meningkatkan kepuasan pengguna dan mengurangi biaya dukungan helpdesk.

6. Pertimbangan: Penerapan pola Single Sign-On membutuhkan infrastruktur dan sumber daya tambahan untuk diimplementasikan, yang dapat meningkatkan biaya. Selain itu, integrasi dengan aplikasi yang sudah ada mungkin membutuhkan pengembangan atau konfigurasi khusus, yang dapat menambah kompleksitas.

7. Implementasi: Untuk menerapkan pola Single Sign-On, organisasi harus memilih penyedia identitas yang mendukung protokol standar industri seperti SAML, OAuth, atau OpenID Connect. Penyedia layanan harus dikonfigurasi untuk mengandalkan IdP dalam proses otentikasi dan otorisasi. Aplikasi yang sudah ada mungkin perlu diintegrasikan dengan IdP, yang dapat memerlukan pengembangan khusus atau konfigurasi.

8. Pola Terkait: Pola-pola terkait yang mungkin berguna dalam kaitannya dengan pola Single Sign-On meliputi:

  • Identitas Federasi: memperluas pola Single Sign-On untuk mendukung otentikasi lintas organisasi atau domain.
  • Kontrol Akses Berbasis Atribut: menggunakan atribut pengguna yang disediakan oleh IdP untuk mengendalikan akses terhadap sumber daya dalam aplikasi.

9. Referensi: Beberapa referensi yang mungkin berguna dalam mengembangkan pola Single Sign-On meliputi:

Dengan menggunakan pola arsitektur ini, organisasi dapat meningkatkan pengalaman pengguna dan mengurangi beban administratif dengan menerapkan solusi single sign-on yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai aplikasi tanpa harus memasukkan kredensial kembali. Pola ini memberikan solusi terbukti untuk masalah umum dan dapat dengan mudah disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan dan keterbatasan spesifik organisasi.

Pola Arsitektur Perusahaan vs Pola Arsitektur Perangkat Lunak

Pola arsitektur perusahaan dan pola arsitektur perangkat lunak adalah konsep yang saling terkait namun berbeda.

Pola arsitektur perangkat lunak berfokus pada desain dan implementasi sistem perangkat lunak atau aplikasi individu. Mereka menyediakan serangkaian pedoman dan praktik terbaik untuk mendesain dan mengimplementasikan komponen perangkat lunak suatu sistem, seperti modul, antarmuka, dan interaksi.

Di sisi lain, pola arsitektur perusahaan berfokus pada desain dan penyelarasan berbagai sistem dan aplikasi perangkat lunak dalam suatu organisasi. Mereka menyediakan serangkaian pedoman dan praktik terbaik untuk mendesain dan mengimplementasikan arsitektur keseluruhan perusahaan, termasuk proses bisnis, struktur data, dan infrastruktur teknologi.

Pola arsitektur perusahaan umumnya menangani isu-isu seperti integrasi sistem, interoperabilitas, dan skalabilitas, yang biasanya tidak dibahas oleh pola arsitektur perangkat lunak. Mereka juga mempertimbangkan konteks bisnis yang lebih luas di mana sistem perangkat lunak diimplementasikan, serta bertujuan untuk menyelaraskan sistem TI dengan tujuan dan sasaran organisasi.

Contoh pola arsitektur perusahaan meliputi Service-Oriented Architecture (SOA), Business Process Management (BPM), dan Enterprise Integration Patterns (EIP), sedangkan contoh pola arsitektur perangkat lunak meliputi Model-View-Controller (MVC), Microservices, dan Arsitektur Berlapis.

Pola Arsitektur Perangkat Lunak

Pola arsitektur perangkat lunak adalah solusi yang dapat digunakan kembali untuk masalah umum dalam desain perangkat lunak. Mereka menyediakan pendekatan terstruktur untuk mendesain dan mengimplementasikan sistem perangkat lunak dengan menentukan serangkaian aturan dan pedoman yang membantu memastikan sistem tersebut tangguh, dapat diskalakan, dan dapat dipelihara.

Pola arsitektur perangkat lunak memberikan gambaran tingkat tinggi dari sistem, mengidentifikasi komponen utama dan interaksi antar komponen tersebut. Mereka mendefinisikan hubungan antar komponen dan menyediakan serangkaian aturan tentang bagaimana komponen-komponen tersebut harus berkomunikasi dan bekerja sama.

Dengan menggunakan pola arsitektur perangkat lunak, pengembang dapat menghemat waktu dan usaha dengan memanfaatkan solusi terbukti untuk masalah umum, alih-alih memulai dari awal untuk setiap proyek baru. Hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas perangkat lunak yang dihasilkan, serta mengurangi waktu dan biaya pengembangan.

Beberapa contoh pola arsitektur perangkat lunak meliputi Model-View-Controller (MVC), Microservices, Arsitektur Berlapis, Service-Oriented Architecture (SOA), dan Event-Driven Architecture (EDA).

Berikut ini adalah beberapa pola arsitektur perangkat lunak yang populer:

  1. Pola Model-View-Controller (MVC): Pola ini memisahkan suatu aplikasi menjadi tiga komponen yang saling terhubung – Model, View, dan Controller – untuk membantu mengelola kompleksitas dan mencapai pemisahan tanggung jawab.
  2. Arsitektur Microservices: Pola ini memecah suatu aplikasi menjadi layanan-layanan kecil yang dapat dideploy secara independen, yang dapat dikembangkan, diimplementasikan, dan diskalakan secara terpisah.
  3. Arsitektur Berlapis: Pola ini membagi suatu aplikasi menjadi lapisan-lapisan logis, masing-masing bertanggung jawab atas aspek tertentu dari fungsi aplikasi, untuk memberikan modularitas dan pemisahan tanggung jawab.
  4. Arsitektur Berbasis Layanan (SOA): Pola ini merupakan pendekatan arsitektur untuk membangun sistem terdistribusi yang menggunakan layanan sebagai blok bangunan utama.
  5. Arsitektur Berbasis Peristiwa (EDA): Pola ini menekankan produksi, deteksi, konsumsi, dan reaksi terhadap peristiwa yang terjadi dalam suatu sistem, memungkinkan arsitektur yang lebih fleksibel dan skalabel.
  6. Desain Berbasis Domain (DDD): Pola ini mendorong penggunaan bahasa bersama dan model untuk menggambarkan domain suatu masalah, menghasilkan kode yang lebih mudah dipelihara dan dipahami.
  7. Arsitektur Heksagonal: Pola ini mengstruktur aplikasi di sekitar inti pusat, dengan port dan adapter yang memungkinkan komunikasi antara inti dan sistem eksternal.
  8. CQRS (Pemisahan Tanggung Jawab Perintah dan Query): Pola ini memisahkan model baca dan tulis dalam suatu aplikasi, memungkinkan pemindaian yang lebih efisien dan skalabilitas yang ditingkatkan.
  9. Arsitektur Reaktif: Pola ini merupakan sekumpulan prinsip desain yang bertujuan untuk membangun sistem yang tangguh, skalabel, dan responsif yang dapat bereaksi terhadap perubahan dalam lingkungan.
  10. Arsitektur Bersih: Pola ini menekankan pemisahan tanggung jawab antara berbagai lapisan aplikasi, dengan tujuan menghasilkan kode yang mudah dibaca, diuji, dan dipelihara.

Ringkasan

Pola Arsitektur merupakan teknik desain yang berharga dalam arsitektur perusahaan yang menawarkan kepada arsitek cara untuk merancang solusi efektif terhadap masalah umum. Dengan menyediakan gambaran rancangan untuk solusi yang telah terbukti berhasil di masa lalu, Pola Arsitektur dapat membantu arsitek menghemat waktu dan sumber daya, sekaligus meningkatkan kualitas keseluruhan solusi. Dalam artikel ini, kami telah memberikan contoh Pola Arsitektur dalam konteks pengembangan aplikasi bisnis, khususnya dalam konteks Single Sign-On (SSO). Dengan menggunakan pola Single Sign-On, organisasi dapat memberikan pengalaman pengguna yang mulus dan mengurangi beban administratif dalam mengelola akun pengguna, sekaligus meningkatkan kepuasan pengguna dan mengurangi biaya dukungan helpdesk.

Tinggalkan Balasan