Metode Pengembangan Arsitektur (ADM) adalah komponen utama dari kerangka kerja TOGAF, yang menyediakan pendekatan komprehensif untuk pengembangan arsitektur perusahaan. ADM menyediakan pendekatan terstruktur untuk mengembangkan dan mengelola arsitektur perusahaan yang selaras dengan tujuan bisnis dan memenuhi kebutuhan pemangku kepentingan. Untuk memaksimalkan manfaat dari proses ADM, penting untuk memahami bagaimana proses ini dapat disesuaikan agar memenuhi kebutuhan khusus suatu organisasi.
Panduan ADM TOGAF memberikan panduan praktis untuk menyesuaikan proses ADM agar dapat mengatasi berbagai skenario penggunaan yang berbeda, seperti mengintegrasikan pendekatan iteratif, menyesuaikan untuk arsitektur tertentu, gaya proses yang berbeda, dan struktur organisasi yang berbeda. Dengan mengikuti panduan ini, organisasi dapat mengoptimalkan proses pengembangan arsitektur perusahaan dan meningkatkan keselarasan arsitektur mereka dengan tujuan bisnis.

Panduan untuk Menyesuaikan Proses ADM:
- Menerapkan Iterasi pada ADM: Panduan ini mengeksplorasi konsep iterasi dan manfaat potensialnya ketika diterapkan pada proses ADM. Panduan ini menguraikan berbagai strategi untuk mengintegrasikan pendekatan iteratif ke dalam ADM, termasuk pengembangan bertahap dan metodologi agile. Panduan ini juga memberikan rekomendasi untuk memilih pendekatan iterasi yang sesuai berdasarkan kebutuhan organisasi.
- Menerapkan ADM di Seluruh Lanskap Arsitektur : Panduan ini berfokus pada berbagai tingkat keterlibatan arsitektur dalam suatu perusahaan dan bagaimana ADM dapat disesuaikan untuk mendukung tingkat-tingkat tersebut. Panduan ini memberikan panduan tentang cara menyesuaikan proses ADM untuk jenis keterlibatan arsitektur tertentu, seperti perencanaan strategis atau pengiriman proyek. Panduan ini juga menekankan pentingnya menyelaraskan ADM dengan strategi bisnis keseluruhan organisasi.
- Menyesuaikan ADM untuk Arsitektur Khusus: Panduan ini memberikan rekomendasi untuk menyesuaikan proses ADM agar dapat mengakomodasi domain arsitektur khusus, seperti arsitektur keamanan atau arsitektur data. Panduan ini menguraikan pertimbangan dan tantangan unik yang terkait dengan domain-domain tersebut dan memberikan panduan tentang cara mengintegrasikannya secara efektif ke dalam proses ADM.
- Menyesuaikan ADM untuk Gaya Proses yang Berbeda: Panduan ini mengeksplorasi berbagai gaya proses yang dapat digunakan bersamaan dengan proses ADM, seperti metodologi lean atau Six Sigma. Panduan ini memberikan rekomendasi untuk mengintegrasikan gaya proses tersebut ke dalam ADM dan menyoroti manfaat potensial dari penerapannya.
- Menyesuaikan ADM untuk Struktur Organisasi yang Berbeda: Panduan ini mengatasi tantangan yang terkait dengan penyesuaian proses ADM agar sesuai dengan struktur organisasi yang berbeda, seperti yang memiliki pengambilan keputusan terdesentralisasi atau model tata kelola yang sangat terpusat. Panduan ini memberikan rekomendasi untuk menyesuaikan proses ADM agar sesuai dengan struktur-struktur tersebut dan mengusulkan pendekatan untuk mengelola keterlibatan pemangku kepentingan dalam konteks-konteks tersebut.
Menerapkan Iterasi pada ADM
Konsep iterasi merupakan komponen kritis dari Metode Pengembangan Arsitektur (ADM) dalam kerangka kerja TOGAF. Terdapat tiga cara utama di mana iterasi digunakan untuk mendukung proses ADM.
ADM TOGAF menyarankan serangkaian siklus iterasi yang dapat digunakan untuk mengelompokkan secara efektif aktivitas arsitektur yang terkait untuk mencapai tujuan tertentu.
ADM TOGAF menyediakan kerangka terstruktur untuk mengembangkan dan menerapkan arsitektur perusahaan. Proses ini dibagi menjadi tahapan dan iterasi, di mana setiap iterasi mewakili pengelompokan logis dari aktivitas-aktivitas terkait yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Siklus iterasi yang direkomendasikan untuk ADM TOGAF adalah:
- Tahap Awal: Tahap ini difokuskan pada pembentukan dasar bisnis untuk pengembangan arsitektur perusahaan, mengidentifikasi pemangku kepentingan dan permasalahan mereka, serta menentukan cakupan dari upaya arsitektur perusahaan.
- Tahap Visi Arsitektur: Tahap ini difokuskan pada pengembangan gambaran tingkat tinggi dari arsitektur perusahaan, termasuk tujuan bisnis, penggerak strategis, dan kebutuhan bisnis utama.
- Tahap Arsitektur Bisnis: Tahap ini difokuskan pada pengembangan gambaran rinci dari arsitektur bisnis organisasi, termasuk proses bisnis, struktur organisasi, dan kemampuan bisnis.
- Tahap Arsitektur Sistem Informasi: Tahap ini difokuskan pada pengembangan gambaran rinci dari arsitektur sistem informasi organisasi, termasuk arsitektur data, arsitektur aplikasi, dan arsitektur teknologi.
- Tahap Arsitektur Teknologi: Tahap ini difokuskan pada pengembangan gambaran rinci dari infrastruktur teknologi organisasi, termasuk komponen perangkat keras, perangkat lunak, dan jaringan.
- Tahap Peluang dan Solusi: Tahap ini difokuskan pada mengidentifikasi dan mengevaluasi solusi potensial untuk menangani kebutuhan bisnis dan mencapai tujuan arsitektur perusahaan.
- Fase Perencanaan Migasi: Fase ini berfokus pada pengembangan rencana komprehensif untuk beralih dari arsitektur saat ini ke arsitektur target.
- Fase Tata Kelola Implementasi: Fase ini berfokus pada pembentukan kerangka tata kelola untuk mengelola implementasi arsitektur perusahaan.
- Fase Manajemen Perubahan Arsitektur: Fase ini berfokus pada pengelolaan perubahan terhadap arsitektur perusahaan seiring waktu, termasuk pemantauan implementasi arsitektur, serta melakukan perubahan sesuai kebutuhan.
Siklus iterasi ini dapat disesuaikan dan diulang sesuai kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan spesifik organisasi dan mencapai hasil yang diinginkan.
- Iterasi Pengembangan Arsitektur – Iterasi digunakan untuk menggambarkan proses pengembangan Lanskap Arsitektur yang komprehensif melalui beberapa siklus ADM, masing-masing berfokus pada inisiatif individu dalam lingkup Permintaan Kerja Arsitektur.
- Iterasi Perencanaan Transisi – Iterasi digunakan untuk menggambarkan proses terintegrasi dalam pengembangan arsitektur, di mana aktivitas dalam berbagai fase ADM saling berinteraksi untuk menghasilkan arsitektur yang terintegrasi. Jenis iterasi ini sering digambarkan secara berurutan untuk menjelaskan secara jelas aktivitas dan hasilnya.
- Iterasi tata kelola arsitektur – Iterasi mendukung tata kelola aktivitas perubahan yang sedang bergerak menuju arsitektur target yang telah ditentukan.
- Iterasi Kemampuan Arsitektur – Iterasi digunakan untuk menggambarkan proses pengelolaan perubahan terhadap Kemampuan Arsitektur organisasi, di mana peningkatan berkelanjutan dicapai melalui iterasi berkelanjutan dan penyempurnaan proses ADM. Dengan mengintegrasikan konsep iteratif ini ke dalam proses ADM, organisasi dapat meningkatkan kemampuan pengembangan arsitektur mereka dan memastikan bahwa arsitektur mereka tetap selaras dengan kebutuhan bisnis yang terus berkembang.

Lanskap Arsitektur dan Siklus Iteratif
Dalam perusahaan umum, dapat ada banyak arsitektur yang berbeda yang digambarkan dalam Lanskap Arsitektur pada waktu tertentu. Arsitektur-arsitektur ini dapat menanggapi kebutuhan khusus atau memberikan pandangan yang lebih luas dan umum mengenai arsitektur keseluruhan organisasi.
Untuk membantu mengelola kompleksitas ini, standar TOGAF menggunakan konsep tingkatan dan Continuum Perusahaan. Tingkatan mengacu pada tingkatan detail yang berbeda dalam Lanskap Arsitektur, mulai dari arsitektur strategis tingkat tinggi hingga arsitektur teknis yang lebih rinci. Tingkatan arsitektur yang berbeda diorganisasi secara hierarkis, dengan arsitektur tingkat tinggi memberikan panduan dan batasan bagi arsitektur yang lebih rinci.
Continuum Perusahaan adalah kerangka konseptual lain yang digunakan dalam TOGAF untuk mengatur Lanskap Arsitektur. Ini menyediakan cara untuk mengklasifikasikan dan mengorganisasi arsitektur yang berbeda berdasarkan tingkat abstraksi dan tingkat standarisasi atau penyesuaian mereka. Continuum Perusahaan mencakup empat tingkatan: Continuum Arsitektur, Continuum Solusi, Continuum Industri, dan Continuum Organisasi.
Dengan menggunakan kerangka kerja ini, TOGAF menyediakan pendekatan terstruktur untuk mengatur Lanskap Arsitektur, membantu organisasi mengelola kompleksitas dan memastikan bahwa semua arsitektur selaras dengan tujuan dan sasaran bisnis.

Kebutuhan pemangku kepentingan yang berbeda pada tingkatan organisasi yang berbeda memerlukan jenis arsitektur yang berbeda, dan setiap arsitektur harus ditempatkan dalam hierarki tata kelola. Arsitektur yang luas dan ringkasan menentukan arah bagi arsitektur yang sempit dan rinci, memastikan keselarasan dengan tujuan dan sasaran bisnis.
Untuk mencapai hal ini, proses ADM dapat digunakan dalam dua strategi berbeda:
- Arsitektur pada tingkatan yang berbeda dapat dikembangkan melalui iterasi dalam satu siklus proses ADM. Pendekatan ini melibatkan pengembangan arsitektur pada tingkatan yang berbeda dalam siklus ADM yang sama, menggunakan iterasi untuk menyempurnakan dan mengembangkan arsitektur sesuai kebutuhan.
- Arsitektur pada tingkatan yang berbeda dapat dikembangkan melalui hierarki proses ADM, yang dijalankan secara bersamaan. Pendekatan ini melibatkan penggunaan beberapa instans proses ADM, masing-masing berfokus pada tingkatan arsitektur yang berbeda. Proses ADM dijalankan secara bersamaan, dengan setiap tingkatan arsitektur memberikan informasi dan membimbing pengembangan tingkatan lainnya.
Kedua strategi ini dapat digunakan untuk mengembangkan arsitektur pada tingkatan yang berbeda dalam organisasi, tergantung pada kebutuhan dan kondisi spesifik. Dengan menggunakan proses ADM, organisasi dapat memastikan bahwa semua arsitektur dikembangkan secara terstruktur dan konsisten, serta selaras dengan tujuan dan sasaran bisnis secara keseluruhan.
Pendekatan Iteratif dalam Pengembangan Arsitektur dalam Siklus dan Tingkatan ADM TOGAF
Kerangka TOGAF menggunakan pendekatan iteratif terhadap Metode Pengembangan Arsitektur (ADM), yang melibatkan penyelesaian setiap fase siklus ADM pada satu tingkatan Deskripsi Arsitektur. Setelah siklus ADM selesai pada tingkatan tertentu, hasilnya ditinjau, dan perubahan atau pembaruan yang diperlukan diintegrasikan ke dalam siklus berikutnya pada tingkatan tersebut atau dalam siklus berikutnya pada tingkatan yang berbeda.
Penggunaan Fase F (Perencanaan Migasi) untuk memulai proyek pengembangan arsitektur baru yang lebih rinci adalah salah satu cara kerangka TOGAF mendukung pendekatan iteratif ini. Dengan cara ini, arsitektur tingkat tinggi digunakan untuk membimbing dan membatasi pengembangan arsitektur yang lebih rinci, memastikan bahwa keseluruhan lanskap arsitektur konsisten dan selaras dengan tujuan dan sasaran bisnis.
Penting untuk dicatat bahwa Lanskap Arsitektur yang lengkap tidak dikembangkan dalam satu siklus ADM, melainkan melalui beberapa iterasi proses ADM dan mungkin pada tingkatan yang berbeda. Pendekatan iteratif ini memungkinkan penyempurnaan dan peningkatan arsitektur secara berkelanjutan seiring waktu, memastikan bahwa arsitektur tetap relevan dan efektif dalam memenuhi kebutuhan organisasi yang terus berkembang.

- Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk siklus iterasi tertentu dalam TOGAF dapat bervariasi tergantung pada kompleksitas proyek pengembangan arsitektur dan tingkat keterlibatan pemangku kepentingan. Beberapa siklus iterasi mungkin hanya memerlukan satu iterasi, sementara yang lain mungkin memerlukan beberapa iterasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.
- Penting juga untuk mempertimbangkan titik-titik periksa yang sesuai dalam proses, tergantung pada tingkat keterlibatan pemangku kepentingan. Sebagai contoh, jika pemangku kepentingan sangat terlibat dalam proses pengembangan arsitektur, maka diperlukan titik periksa yang sering dan informal untuk memastikan proyek berjalan sesuai rencana. Di sisi lain, jika pemangku kepentingan kurang terlibat, titik periksa mungkin lebih jarang tetapi lebih formal.
- Titik periksa umum dalam TOGAF mencakup titik periksa pada akhir setiap siklus iterasi atau pada akhir beberapa siklus iterasi. Titik-titik periksa ini membantu memastikan bahwa proyek pengembangan arsitektur tetap selaras dengan tujuan dan sasaran bisnis secara keseluruhan, serta memungkinkan penyesuaian yang diperlukan sesuai kebutuhan.
Ringkasan
Artikel ini menyediakan panduan komprehensif bagi organisasi untuk menerapkan siklus iteratif dalam TOGAF ADM guna memaksimalkan efektivitas upaya pengembangan arsitektur perusahaan. Panduan ini akan menjelaskan prinsip-prinsip utama dan praktik terbaik dalam menggunakan siklus iteratif dalam TOGAF ADM, termasuk cara menyesuaikan siklus iterasi sesuai kebutuhan spesifik organisasi dan cara mengintegrasikan umpan balik dari pemangku kepentingan sepanjang proses pengembangan. Tujuan akhir dari panduan ini adalah membantu organisasi mencapai tujuan arsitektur perusahaan secara lebih efisien dan efektif dengan memanfaatkan kekuatan metodologi pengembangan iteratif.
Secara ringkas, pengembangan arsitektur pada berbagai tingkatan dalam suatu organisasi memerlukan pendekatan terstruktur yang mempertimbangkan kebutuhan pemangku kepentingan yang berbeda serta kebutuhan untuk selaras dengan tujuan dan sasaran bisnis secara keseluruhan. Untuk mencapai hal ini, standar TOGAF menyediakan dua strategi yang dapat diterapkan:
- Arsitektur pada tingkatan yang berbeda dapat dikembangkan melalui iterasi dalam satu siklus proses ADM, memungkinkan pengembangan arsitektur pada tingkatan yang berbeda dalam siklus yang sama.
- Arsitektur pada tingkatan yang berbeda dapat dikembangkan melalui hierarki proses ADM yang dijalankan secara bersamaan, di mana setiap tingkatan arsitektur memberikan informasi dan membimbing pengembangan tingkatan lainnya.
Kedua strategi ini memungkinkan pengembangan arsitektur pada tingkatan detail dan abstraksi yang berbeda, memastikan bahwa semua arsitektur selaras dengan tujuan dan sasaran bisnis serta berada dalam hierarki tata kelola.











