Pendahuluan
Di dunia yang rumit dari pengembangan perangkat lunak, memahami dan mengidentifikasi kelas sangat penting untuk menciptakan sistem yang kuat dan dapat dipelihara. Salah satu alat yang ampuh dalam gudang alat arsitek perangkat lunak adalah diagram urutan.Diagram urutanmemberikan tampilan dinamis dari suatu sistem dengan menggambarkan interaksi antar objek seiring waktu. Memanfaatkan diagram urutan dapat secara signifikan membantu dalam mengidentifikasi dan memperjelas kelas dalam proyek perangkat lunak.
Dasar-Dasar Diagram Urutan
Sebelum memasuki peran diagram urutan dalammengidentifikasi kelas, mari kita mengulas kembali dasar-dasarnya. Diagram urutan adalah jenis diagram interaksi yang berfokus pada urutan kronologis pesan yang ditukar antara objek atau komponen yang berbeda. Ini secara visual merepresentasikan alur kontrol dan data melalui suatu sistem.
Mengidentifikasi Kelas:
- Interaksi Objek:
- Cari objek yang muncul berulang kali dalam diagram urutan. Objek yang sering berinteraksi dengan yang lain mungkin mewakili kelas potensial dalam sistem.
- Identifikasi objek yang memainkan peran sentral dalam mengoordinasikan aktivitas atau menjadi perantara komunikasi antar objek lain. Ini bisa menjadi pertanda tanggung jawab kelas.
- Alur Pesan:
- Tandai alur pesan antar objek. Pertimbangkan sifat pesan dan informasi yang sedang ditransmisikan.
- Objek yang secara konsisten terlibat dalam pengiriman jenis pesan tertentu mungkin menyertakan fungsi yang terkait dan dapat dikelompokkan menjadi kelas.
- Konsistensi dalam Perilaku:
- Periksa perilaku objek seiring waktu. Apakah ada objek yang secara konsisten melakukan tindakan atau operasi yang serupa?
- Objek yang menunjukkan perilaku yang konsisten mungkin kandidat kuat untuk membentuk kelas yang utuh.
- Identifikasi Peran:
- Tetapkan peran pada objek berdasarkan tanggung jawab mereka dalam diagram urutan. Peran dapat memberikan wawasan tentang fungsi tingkat tinggi yang dilakukan objek.
- Objek dengan peran yang serupa mungkin dikelompokkan bersama untuk membentuk kelas yang menyertakan tanggung jawab yang terkait.
Studi Kasus
Mari kita pertimbangkan sebuah contoh: sistem belanja online sederhana.
- Objek:
- Identifikasi objek seperti “Pelanggan,” “KeranjangBelanja,” dan “ManajerInventaris” dalam diagram urutan.
- Objek-objek ini kemungkinan besar mewakili kelas yang bertanggung jawab atas penanganan interaksi pelanggan, pengelolaan keranjang belanja, dan pengawasan inventaris.
- Pesan:
- Analisis pesan seperti “tambahItemKeKeranjang,” “prosesPembayaran,” dan “perbaruiInventaris.”
- Objek-objek yang terlibat dalam pesan-pesan ini mungkin membentuk kelas yang terkait dengan manajemen keranjang, pemrosesan pembayaran, dan pembaruan inventaris.
- Perilaku:
- Objek-objek yang secara konsisten terlibat dalam proses checkout atau pemenuhan pesanan dapat dikelompokkan ke dalam kelas “CheckoutManager”.
- Objek-objek yang bertanggung jawab atas penanganan tindakan terkait produk dapat menjadi bagian dari kelas “ProductManager”.
Memperhalus Kelas
- Abstraksi:
- Abstraksikan atribut dan metode umum dari kelas-kelas yang telah diidentifikasi untuk menciptakan kelas yang lebih umum dan dapat digunakan kembali.
- Pastikan setiap kelas memiliki tanggung jawab yang jelas dan mematuhi prinsip-prinsip enkapsulasi dan kohesi.
- Kolaborasi:
- Validasi kelas-kelas yang telah diidentifikasi dengan mempertimbangkan bagaimana mereka saling berkolaborasi.
- Sesuaikan dan perbaiki kelas-kelas berdasarkan arsitektur sistem secara keseluruhan dan tujuan desain.
Mengidentifikasi Kelas dengan Diagram Urutan dalam 8 Langkah
Langkah 1: Dapatkan Diagram Urutan
Mulailah dengan mendapatkan atau membuat diagram urutan yang menggambarkan interaksi dinamis antar objek dalam sistem. Diagram ini harus menggambarkan alur pesan dan urutan komunikasi antar objek.
Langkah 2: Identifikasi Objek yang Sering Muncul
Telusuri diagram urutan untuk menemukan objek-objek yang sering muncul. Objek-objek yang memainkan peran sentral dalam berbagai interaksi dapat menjadi kandidat kelas. Catat nama-nama mereka dan keterlibatan konsisten mereka dalam diagram.
Contoh: Dalam sistem belanja online kami, objek “Pelanggan” dan “KeranjangBelanja” mungkin muncul di berbagai tahap urutan, menunjukkan pentingnya mereka dalam proses secara keseluruhan.
Langkah 3: Analisis Alur Pesan
Periksa alur pesan antar objek. Identifikasi pola dalam pengiriman pesan dan fokus pada jenis pesan yang ditukar. Objek-objek yang secara konsisten terlibat dalam pengiriman jenis pesan tertentu dapat dikelompokkan ke dalam kelas dengan fungsi yang terkait.
Contoh: Jika objek “Pelanggan” secara konsisten mengirim pesan terkait penjelajahan produk dan menambahkan item ke keranjang, hal ini menunjukkan kemungkinan kelas “Pelanggan” yang bertanggung jawab atas penanganan interaksi pelanggan.
Langkah 4: Cari Konsistensi dalam Perilaku
Amati perilaku objek seiring waktu. Apakah ada objek yang secara konsisten melakukan tindakan atau operasi yang serupa? Objek dengan perilaku konsisten dapat menunjukkan kelas potensial yang mengabstraksi fungsi yang terkait.
Contoh: Jika “ManagerInventaris” secara konsisten menerima pesan terkait pembaruan tingkat persediaan, hal ini menunjukkan adanya kelas yang bertanggung jawab atas manajemen inventaris.
Langkah 5: Identifikasi Peran
Tetapkan peran kepada objek berdasarkan tanggung jawab mereka dalam diagram urutan. Objek dengan peran serupa dapat dikelompokkan bersama untuk membentuk kelas yang mengabstraksi tanggung jawab yang terkait.
Contoh: Objek-objek yang terlibat dalam pemrosesan pembayaran, seperti “GatewayPembayaran” dan “PemrosesPembayaran”, dapat dikelompokkan ke dalam kelas “ManagerPembayaran”.
Langkah 6: Validasi dengan Studi Kasus
Terapkan kelas yang telah diidentifikasi pada studi kasus atau contoh dalam diagram urutan. Periksa apakah kelas-kelas tersebut selaras dengan arsitektur sistem secara keseluruhan dan masuk akal dalam konteks perangkat lunak yang sedang dikembangkan.
Contoh:Pastikan kelas-kelas yang telah diidentifikasi seperti “Pelanggan,” “KeranjangBelanja,” “ManajerStok,” dan “ManajerPembayaran” secara bersamaan mencakup fungsi-fungsi utama dari sistem belanja daring.
Langkah 7: Haluskan dan Abstrak
Haluskan kelas-kelas yang telah diidentifikasi dengan mengekstrak atribut dan metode umum. Pastikan setiap kelas memiliki tanggung jawab yang jelas dan mematuhi prinsip-prinsip enkapsulasi dan kohesi. Bekerjasama dengan arsitektur sistem secara keseluruhan dan tujuan desain.
Contoh:Abstraksikan metode umum seperti “addItemToCart” dari kelas “Pelanggan” untuk menciptakan kelas “ManajerKeranjangBelanja” yang lebih umum dan dapat digunakan kembali.
Langkah 8: Iterasi dan Sesuaikan
Lakukan iterasi proses identifikasi sesuai kebutuhan. Sesuaikan dan haluskan kelas-kelas berdasarkan umpan balik, analisis lebih lanjut, atau perubahan dalam persyaratan sistem. Pastikan kelas-kelas yang telah diidentifikasi berkontribusi pada struktur perangkat lunak yang terorganisasi dengan baik dan dapat dipelihara.
Contoh:Jika objek atau interaksi tambahan diperkenalkan, tinjau kembali diagram urutan untuk mengidentifikasi kelas baru atau memperbaiki kelas yang sudah ada.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini dan menerapkannya pada contoh tertentu, pengembang perangkat lunak dapat secara efektif memanfaatkan diagram urutan untuk mengidentifikasi kelas dan membangun fondasi yang kuat untuk pengembangan sistem perangkat lunak yang dapat diskalakan dan dipelihara.
Kesimpulan
Diagram urutanMemberikan pandangan dinamis dan mendalam mengenai interaksi dalam sistem perangkat lunak. Dengan menganalisis diagram ini secara cermat, pengembang perangkat lunak dapat mengidentifikasi kelas-kelas potensial, memahami tanggung jawabnya, dan menciptakan fondasi kuat untuk membangun solusi perangkat lunak yang dapat diskalakan dan dipelihara. Kuncinya terletak pada pengenalan pola, konsistensi, dan peran yang dimainkan oleh berbagai objek seiring waktu. Dengan pemahaman ini, pengembang dapat menciptakan arsitektur perangkat lunak yang mampu bertahan dalam ujian waktu.











