Lompat ke konten
Read this post in: de_DEen_USes_ESfr_FRid_IDjapl_PLpt_PTru_RUvizh_CNzh_TW
Home » Agile & Scrum » Agile vs. Scrum: Membandingkan Dua Pendekatan dalam Manajemen Proyek Agile

Agile vs. Scrum: Membandingkan Dua Pendekatan dalam Manajemen Proyek Agile

Pendahuluan

Manajemen proyek Agile telah menjadi standar de facto untuk pengembangan perangkat lunak dan telah diadopsi oleh banyak industri lain karena fleksibilitasnya dan fokus pada nilai pelanggan. Di lingkup Agile, Scrum adalah salah satu kerangka kerja yang paling populer, tetapi penting untuk memahami bahwa Agile dan Scrum tidaklah identik. Dalam artikel ini, kami akan mengeksplorasi perbedaan utama antara Agile dan Scrum, memberikan perbandingan yang jelas melalui tabel dan contoh.

Agile: Kerangka untuk Fleksibilitas

Agile adalah filosofi atau pola pikir yang mengutamakan fleksibilitas, kolaborasi, dan orientasi pelanggan dalam manajemen proyek. Ia berasal dari Manifesto Agile, yang menguraikan nilai dan prinsip intinya. Berikut adalah beberapa karakteristik dasar dari Agile:

  • Iteratif dan Bertahap: Proyek Agile dipecah menjadi iterasi atau tahapan kecil yang dapat dikelola. Iterasi ini biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan melibatkan sebagian fitur atau persyaratan proyek.
  • Berorientasi Pelanggan: Agile menekankan pengiriman nilai kepada pelanggan sejak awal dan secara rutin. Umpan balik pelanggan dikumpulkan dan diintegrasikan sepanjang proyek, memungkinkan penyesuaian cepat terhadap perubahan kebutuhan.
  • Tim Kolaboratif: Tim lintas fungsi bekerja erat satu sama lain sepanjang proyek, mendorong kolaborasi, komunikasi, dan tanggung jawab bersama.
  • Adaptif dan Menerima Perubahan: Proyek Agile sangat adaptif terhadap perubahan kondisi atau persyaratan. Perubahan dilihat sebagai peluang, bukan sebagai masalah.
  • Peningkatan Berkelanjutan: Tim Agile terus-menerus merefleksikan proses mereka dan mencari cara untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

Scrum: Kerangka Agile yang Spesifik

Scrum, di sisi lain, adalah kerangka Agile yang spesifik yang mengatur serangkaian peran, upacara, dan artefak untuk menerapkan prinsip Agile secara efektif. Meskipun Scrum selaras dengan nilai dan prinsip Agile, ia memberikan pendekatan yang lebih terstruktur dan preskriptif. Berikut adalah komponen utama Scrum:

  • Peran: Scrum mendefinisikan peran-peran tertentu, termasuk Product Owner, Scrum Master, dan Tim Pengembangan. Setiap peran memiliki tanggung jawab dan fungsi yang berbeda.
  • Upacara: Scrum memperkenalkan upacara rutin seperti Perencanaan Sprint, Standup Harian, Tinjauan Sprint, dan Retrospektif Sprint. Ini memberikan cara terstruktur untuk mengelola pekerjaan dan komunikasi.
  • Artefak: Scrum menggunakan artefak khusus seperti Product Backlog, Sprint Backlog, dan Increment untuk mendokumentasikan dan mengelola pekerjaan.
  • Pembatasan Waktu: Scrum menggunakan iterasi yang dibatasi waktu disebut Sprint, biasanya berlangsung 2-4 minggu. Ini memastikan ritme yang konsisten untuk pengembangan dan evaluasi.

Sekarang, mari kita membandingkan Agile dan Scrum dalam bentuk tabel:

Aspek Agile Scrum
Fleksibilitas Menekankan adaptabilitas dan perubahan. Memberikan pendekatan yang lebih terstruktur dengan peran dan upacara yang telah ditentukan sebelumnya.
Peran Peran dapat disesuaikan dan tidak tetap. Mendefinisikan peran tertentu (Pemilik Produk, Master Scrum, Tim Pengembangan).
Upacara Fleksibel dalam memilih upacara. Mewajibkan upacara (Perencanaan Sprint, Standup Harian, Tinjauan Sprint, Refleksi Sprint).
Hasil kerja Pendekatan minimalis terhadap dokumentasi. Mengharuskan hasil kerja tertentu (Daftar Produk, Daftar Sprint, Increment).
Iterasi Panjang iterasi dapat bervariasi. Menggunakan iterasi dengan panjang tetap yang disebut Sprint.
Manajemen Lingkup Perubahan didorong sepanjang waktu. Perubahan dikelola melalui proses terkendali dalam Sprint.
Struktur Tim Tim lintas fungsi bekerja sama. Struktur berbasis peran (Pemilik Produk, Master Scrum, Pengembang).

Contoh:

Contoh 1 – Agile: Bayangkan sebuah tim pengembangan perangkat lunak yang menggunakan prinsip Agile untuk membuat aplikasi seluler. Mereka memulai dengan sekumpulan fitur dasar dan merilis Produk Minimum yang Layak (MVP) untuk mengumpulkan umpan balik pengguna. Berdasarkan umpan balik tersebut, mereka terus-menerus memperbarui dan meningkatkan fitur aplikasi sebagai respons terhadap kebutuhan pengguna dan perubahan pasar.

Contoh 2 – Scrum: Dalam tim Scrum yang bekerja pada aplikasi web, Pemilik Produk mempertahankan Daftar Produk yang diprioritaskan. Tim melakukan Perencanaan Sprint dan memilih sejumlah item dari daftar untuk dikerjakan selama Sprint dua minggu. Rapat Standup harian menjaga tim tetap selaras, dan pada akhir Sprint, mereka mengadakan Tinjauan Sprint untuk menunjukkan pekerjaan yang telah selesai.

Kesimpulannya, meskipun Agile dan Scrum sama-sama mempromosikan nilai dan prinsip Agile, Scrum adalah kerangka kerja khusus yang memberikan pendekatan terstruktur untuk menerapkan praktik Agile. Memilih antara Agile dan Scrum tergantung pada kebutuhan proyek, dinamika tim, dan tingkat struktur yang dibutuhkan. Organisasi sering menyesuaikan elemen dari kedua pendekatan ini agar sesuai dengan kebutuhan unik mereka, menunjukkan fleksibilitas dan keragaman manajemen proyek Agile.

Agile vs Scrum: Kelebihan dan Kekurangan

berikut ini adalah tabel yang membandingkan kelebihan dan kekurangan Agile dan Scrum:

Aspek Kelebihan Agile Kelemahan Agile Kelebihan Scrum Kelemahan Scrum
Fleksibilitas – Sangat dapat disesuaikan dengan perubahan – Kurangnya struktur dapat menyebabkan kekacauan – Menyediakan kerangka kerja yang terstruktur – Dapat terasa kaku atau membatasi
Fokus Pelanggan – Umpan balik pelanggan diprioritaskan – Perubahan yang sering dapat mengganggu alur – Penekanan kuat pada pengiriman nilai – Fleksibilitas terbatas untuk perubahan
Kolaborasi – Mendorong tim lintas fungsi – Membutuhkan koordinasi tim yang efektif – Peran dan tanggung jawab yang jelas – Peran dapat menjadi terlalu preskriptif
Siklus Umpan Balik – Iterasi yang sering mengumpulkan umpan balik – Perubahan yang sering dapat melelahkan – Tinjauan dan penyesuaian rutin – Dapat memakan waktu
Manajemen Perubahan – Perubahan dianggap sebagai peluang – Mengelola perubahan dapat menantang – Perubahan dikelola dalam Sprint – Perubahan terbatas selama Sprint
Dokumentasi – Minimalis, berfokus pada perangkat lunak yang berfungsi – Dapat kekurangan dokumentasi yang komprehensif – Menentukan artefak tertentu – Terlalu menekankan dokumentasi
Kemudahan Adopsi – Mudah diadopsi dan disesuaikan – Membutuhkan organisasi diri yang disiplin – Menyediakan kerangka kerja yang jelas – Dapat sulit diimplementasikan pada awalnya
Keprediktabilitas – Kurang dapat diprediksi karena perubahan kebutuhan – Dapat menyebabkan perluasan cakupan – Menyediakan ritme yang dapat diprediksi – Kurang adaptif terhadap perubahan cakupan
Efisiensi – Tanggapan cepat terhadap perubahan – Dapat menyebabkan ketidakefisienan jika tidak dikelola dengan baik – Mendorong perencanaan Sprint yang efisien – Beban dari upacara atau ritual

Penting untuk dicatat bahwa kelebihan dan kekurangan dapat bervariasi tergantung pada konteks proyek tertentu, tim, dan organisasi. Memilih antara Agile dan Scrum harus didasarkan pada kebutuhan dan keterbatasan unik dari proyek yang sedang berjalan, serta preferensi dan kemampuan tim.

Kesimpulan

Baik Agile maupun Scrum menawarkan pendekatan berharga dalam manajemen proyek yang mengutamakan fleksibilitas, kolaborasi, dan nilai pelanggan. Meskipun Agile mewakili filosofi dan pola pikir yang lebih luas, Scrum menyediakan kerangka kerja yang lebih terstruktur dalam ekosistem Agile.

Keunggulan Agile terletak pada fleksibilitasnya, orientasi terhadap pelanggan, dan penekanan pada kolaborasi. Agile unggul dalam lingkungan yang sering mengalami perubahan, di mana tim membutuhkan kebebasan untuk beradaptasi cepat terhadap kebutuhan yang terus berkembang. Namun, pendekatan minimalis Agile terhadap dokumentasi serta kurangnya peran dan ritual tertentu kadang-kadang menimbulkan tantangan dalam hal koordinasi dan keprediktabilitas.

Di sisi lain, Scrum menawarkan metodologi yang jelas dan preskriptif, sehingga cocok untuk tim yang mencari struktur yang terdefinisi dengan baik. Peran, ritual, dan artefak khususnya membantu mengelola pekerjaan dan komunikasi secara efektif, memastikan ritme pengiriman yang dapat diprediksi. Namun, pendekatan terstruktur ini mungkin terasa kaku bagi beberapa tim, dan memerlukan implementasi yang cermat untuk menghindari menjadi terlalu birokratis.

Pada akhirnya, pilihan antara Agile dan Scrum harus dipandu oleh kebutuhan unik proyek, kemampuan tim, dan budaya organisasi. Banyak organisasi menemukan keberhasilan dengan mengadopsi elemen dari kedua pendekatan tersebut atau dengan menyesuaikannya agar sesuai dengan kondisi khusus mereka. Poin utama yang perlu diingat adalah bahwa baik Agile maupun Scrum merupakan alat dalam toolkit manajemen proyek modern, dan alat yang tepat tergantung pada tugas yang sedang dihadapi.

Tinggalkan Balasan